Bagi pelaku bisnis di tanah air, bulan suci bukan sekadar momen ibadah, tetapi juga puncak aktivitas ekonomi. Ramadhan di Indonesia identik dengan peningkatan daya beli masyarakat yang drastis, mulai dari kebutuhan pangan, fashion, hingga persiapan mudik.
Namun, dengan kompetisi yang semakin ketat, sekadar memberikan diskon saja tidak lagi cukup. Diperlukan strategi marketing yang relevan, menyentuh sisi emosional, dan adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen saat berpuasa.
1. Pahami Perubahan Perilaku Konsumen (The Prime Time Shift)

Selama bulan puasa, pola aktivitas masyarakat berubah total. Waktu puncak penggunaan internet bergeser ke jam-jam spesifik:
- Waktu Sahur (03.00 – 05.00 WIB): Lonjakan trafik e-commerce biasanya terjadi di waktu ini karena orang berbelanja sambil menunggu imsak.
- Waktu Ngabuburit (16.00 – 18.00 WIB): Konsumen aktif mencari konten hiburan, resep makanan, atau promo buka puasa.
- Pasca Tarawih: Waktu santai yang sering digunakan untuk membandingkan harga barang.
Tips: Atur jadwal iklan digital (Facebook/Instagram Ads atau Google Ads) Anda sesuai dengan jam-jam “panas” tersebut untuk efisiensi anggaran.
2. Gunakan Pendekatan Emotional Branding

Masyarakat Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan berbagi selama bulan suci. Strategi marketing yang efektif adalah yang mampu menyisipkan narasi tentang kebersamaan, maaf-memaafkan, atau kebaikan.
Jangan hanya menjual produk, juallah “solusi” untuk momen Ramadhan. Misalnya, jika Anda menjual perangkat alat masak, buatlah konten video tentang “Mudahnya Menyiapkan Sahur untuk Keluarga Tercinta”.
3. Maksimalkan Promo Khusus: Flash Sale Sahur & Hamper

Budaya mengirim bingkisan atau hamper telah menjadi tren besar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
- Buatlah paket bundling produk yang menarik untuk dijadikan hadiah Lebaran.
- Terapkan sistem Flash Sale Sahur untuk menarik konsumen yang aktif di dini hari.
- Tawarkan promo “Gratis Ongkir” yang masih menjadi daya tarik utama bagi pembeli di Indonesia.
4. Optimalisasi Konten Video Pendek (TikTok & Reels)

Visual adalah kunci. Konten video pendek yang menunjukkan tutorial hijab, tips menu buka puasa hemat, atau behind the scene persiapan Lebaran sangat mudah menjadi viral. Pastikan Anda menggunakan lagu yang sedang tren dan hashtag relevan seperti #Ramadhan2026 atau #InfoRamadhan.
5. Persiapkan Strategi Pasca-THR (Tunjangan Hari Raya)

Strategi marketing Anda harus mencapai puncaknya saat THR cair (biasanya H-14 hingga H-7 Lebaran). Ini adalah periode di mana konsumen memiliki likuiditas tertinggi. Pastikan stok barang aman dan layanan pelanggan (customer service) responsif menghadapi lonjakan pesanan.
Kunci sukses strategi marketing selama Ramadhan di Indonesia adalah keseimbangan antara penawaran harga yang menarik dan pesan kampanye yang bermakna. Konsumen tidak hanya mencari barang murah, mereka mencari brand yang memahami makna bulan suci bagi mereka.
Mulailah strategi marketing lebih awal agar brand awareness sudah terbentuk sebelum puncak belanja tiba. Selamat mencoba!





Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.